Kisah Next Generation 1 - Chapter 8


Disclamer: J. K. Rowling
KISAH NEXT GENERATION 1: CIUMAN YANG SALAH

Chapter 8


Tanggal: Sabtu 23 Desember 2012
Lokasi: Hogsmeade
Waktu: 11 am – waktu yang tidak ditentukan
Dear Diary,
Ini pertama kalinya, aku ke Hogsmeade lagi di semester ini. Aku sengaja menghindari Hogsmeade karena aku tahu Teddy pasti akan datang ke sana. Anak-anak selalu mengirimkan berita tentang waktu kunjungan ke Hogsmeade padanya, jadi aku memutuskan untuk tinggal di Hogwarts dan belajar. Bukannya aku tidak ingin bertemu Teddy, tapi aku belum ingin membahas apa yang kurasakan. Lagipula, aku seharunya masih marah, kan? Dia menyamar jadi Daniel hanya untuk menciumku.
Teddy sudah menulis padaku, mengatakan kata-kata maaf dan keinginannya untuk bertemu denganku, namun aku masih belum ingin bertemu dengannya. Aku masih harus menyelesaikan banyak hal: aku masih belum tahu apa yang dilakukan Molly; Dom dan Lucy sudah pandai sekali meramu ramuan untuk hangover (mereka masih sering menyelundup ke Hog’s Head di malam hari); Fred nampaknya semakin banyak Galleon; Roxy masih melakukan kegiatan terbang di malam hari; James, tampak sedikit stress entah mengapa; Louis masih tidak ikut beberapa kelas Herbologi (Longbottom telah mengirim surat pada Mom dan dia menyuruhku mengawasinya); Rose masih bertengkar dengan Scorpius, namun mereka menahan diri untuk tidak meluncurkan mantra yang bisa mengacau-balaukan Aula Besar; Al masih terus memantrai anak-anak Slytherin di koridor. Kadang aku berpikir, mengapa adik-adik dan sepupu-sepupuku, kecuali Molly, tidak ditempatkan di Slytherin saja. Melihat kelakukan mereka kau pasti berpikir mereka adalah Slytherin.
Kau pasti bertanya mengapa aku ke Hogsmeade padahal aku sedang menghindari Teddy. Itu karena Teddy tidak mungkin datang ke Hogsmeade hari ini. Aku telah secara khusus bertanya pada Uncle Harry tentang jadwal Teddy dan dia mengatakan bahwa para calon Auror sedang mengadakan pelatihan di Banffshire.
Syukurlah, rasanya senang sekali meninggalkan kastil karena aku bisa menjauh dari semuanya, menjauh dari anak-anak (Fred, James, Louis, Roxy, Rose dan Al belum diijinkan ke Hogsmeade), terutama dari Daniel dan pacar barunya. Mereka sering berciuman di koridor-koridor sepi, untung saja bukan di ruang rekreasi Ketua Murid.  Aku bukannya cemburu, atau apa, aku hanya merasa risih, maksudku dia juga pernah menciumku, kan?
Mencari-cari Molly di antara anak-anak yang berkeliaran di Hogsmead, bukanlah kegiatan yang mudah, karena semua anak tampaknya sama saja di antara sweater wol warna-warni, jaket kulit dan salju yang putih. Dom dan Lucy juga tidak kelihatan, kemungkinan besar mereka di Hog’s Head. Pelayan bar di sana tidak peduli, pelajar atau bukan, kalau kau punya Sickle dan Galleon kau bisa membeli apa saja. Apakah aku harus mencari Dom dan Lucy di Hog’s Head? Tidak, aku tidak akan melakukannya, bisa-bisa terjadi pertengkaran. Dom dan Lucy melawanku, tentu saja aku yang kalah.
Masuk ke toko permen Honeyducks dan bersesakkan dengan siswa kelas tiga yang mencari-cari permen di antara konter-konter penuh permen segala rasa, merupakan kegiatan yang menyenangkan. Di sini hangat dan wangi permen tercium di udara membuatku bersemangat. Setelah membelikan permen untuk Fred, Roxy, James, Louis, Rose dan Al, aku segera keluar dari kehangatan toko permen itu.
Angin yang agak kencang dan dingin menyambarku saat aku berjalan menyusuri jalan menuju Three Broomstick. Aku merapat syal merah Griffindor di leherku dan segera berjalan cepat setengah berlari menuju Three Broomstick, tapi sebuah tubuh yang keras seperti tembok batu menghalangiku,
BUK!
Terjadi tabrakan keras dan aku terjatuh di salju dengan bokong terbenam dalam salju.
Sial!
Siapa brengsek yang menghalangi jalan orang?
Masih terduduk di salju, aku mengangkat muka dan melihat seorang cowok berambut pirang, berkacamata, bermantel hitam dan bernama Terrius sedang tersenyum, lebih tepatnya tawa.
“Oh, hentikan!” kataku sebal.
“Hai, Victoire, kau baik-baik saja?” katanya, mengulurkan tangan padaku, membantuku berdiri.
“Aku baik-baik saja,” jawabku berdiri, kemudian mengelus-elus bokongku yang sakit.
“Kelihatan kau kesakitan,” katanya, masih tersenyum.
“Itu karena aku melihat wajahmu. Apa yang kaulakukan di sini?” tanyaku.
“Memangnya aku tidak boleh ada di Inggris?” dia balik bertanya.
“Oh, sudahlah,” kataku sebal.
Diary, aku akan memperkenalkan pendatang baru ini. Dia adalah Terrius Krum, aku pernah menyebutnya di halaman-halaman sebelumnya, tapi aku tahu kau mungkin tidak memperhatikannya. Oke, aku akan mengulangnya lagi. Jadi, Terrius Krum adalahkau benar sekalianak Viktor Krum, teman Mom. Mereka sering mengunjungi Shell Cottage kalau sedang ada di Inggris. Dia dua tahun lebih muda dariku dan sudah lulus Drumstrang beberapa bulan yang lalu. Aku kadang bertanya-tanya mengapa dia bisa lulus secepat ini, apakah anak-anak Durmstrang diijinkan lompat ke kelas yang lebih tinggi kalau kau cukup pintar?
Dan Terry, bukan sekedar cukup pintar, tapi dia benar-benar pintar. Dia bisa menghafal angka-angka, nama-nama dan peristiwa dengan cepat dan tepat hanya dengan satu kali melihat atau satu kali mendengarkan. Dia juga dapat mengerjakan perhitungan Arithmancy yang super-sulit hanya dengan hitungan detik, hebat bukan? Dan yang lebih hebat lagi, namanya telah terukir dalam Buku Record Dunia Sihir sebagai anggota termuda Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sihir Sedunia. Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka telah berhasil menemukan beberapa penemuan penting untuk dunia sihir, seperti ramuan-ramuan baru, mantra-mantra yang sangat berguna dan berbagai hal yang berhubungan dengan pengetahuan.
Tetapi, yeah, anaknya agak culun, dalam penampilan dan dalam perilaku. Penampilannya bisa membuat orang berpikir bahwa dia adalah pengemis di jalan-jalan Diagon Alley pada jaman Voldemort, yang telah ber-reinkarnasi. Lihat saja sekarang, rambut kotor, wajah coklat, tahi mata di sudut mata, bibir pecah-pecah, kacamata super-tebal yang juga kotor, jubah hitam kusam, sepatu kumal. Orang akan berpikir bahwa dia tidak mendapat apa-apa dalam menjual penemuan-penemuannyaapa sih yang dia lakukan dengan Galleon-Galleon-nya? Tidak ada salahnya membeli sabun dan parfum, kan?
Dia juga tidak punya teman, apa lagi pacar, temannya mungkin bisa dihitung dengan jari dan aku adalah salah satunya. Sebenarnya, aku sedikit heran juga, bagaimana aku bisa berteman dengan anak culun seperti ini? Mungkin karena aku adalah penjaga anak-anak dan tidak ingin ada anak-anak yang menyendiri di sudut ketika anak-anak lain sedang bermain. Nah, aku memang seperti itu, waktu dia masih berumur sepuluh tahun orangtuannya pernah membawanya berkunjung ke Shell Cottage dan dia tidak bermain bersama kami, dia hanya duduk di dekat ayahnya dan memandang rumah kami dengan kagum. Aku yang waktu itu sedang semangat-semangatnya membuat orang lain ceria, menyeretnya dari sisi ayahnya dan menyerahkannya pada Dom, yang langsung melemparkannya ke laut. Untung saja dia tidak mati tenggelam. Kejadian waktu itu heboh sekali, Mom dan Dad segera menghukum Dom dan aku, tapi setelah itu dia jadi temanku. Dia dan Dom juga berteman, tapi entah mengapa terasa janggal dan kaku. Dia lebih santai kalau bersamaku, yeah, semua orang memang lebih santai kalau bersamaku.
Diam-diam aku berpikir untuk menjodohkannya dengan Molly, kalau dia bersama Molly, dia kan bisa masuk menjadi anggota keluarga kami. Tetapi aku tidak yakin Molly menyukai anak culun ini. Omong-omong, Molly ke mana, ya?
“Mana Dom?” tanya Terry, saat kami berjalan menyusuri jalanan bersalju menuju Three Broomstick.
“Jangan tanya aku!” jawabku. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kami sedang meneliti sesuatu di Inggris,” jawabnya singkat.
“Apa?”
“Tidak mungkin aku bisa membuka rahasia perusahaan padamu, Victoire.”
“Oke, cuma basa-basi,” kataku pedas.
Kami masuk ke bar hangat Three Broomstick. Terry memesan Butterbeer dan aku mencari meja dalam bar yang penuh itu.
“Di sini,” teriakku, memberi isyarat pada Terry, yang membawa dua kaleng hangat Butterbeer untuk mengikutiku ke meja dekat jendela.
Kami duduk dan meneguk Butterbeer.
“Siapa pacarmu sekarang?” tanyaku.
“Tidak ada. Kau?”
“Baru putus, beberapa bulan yang lalu,” jawabku.
“Dom?”
“Jangan tanya aku!” jawabku, aku memperhatikannya sesaat. “Kau naksir dia?”
“Siapa?” dia bertanya bingung.
“Dom… Kau suka Dom?”
“Tidak...” Wajahnya memerah.
Aku menyeringai. Dia suka Dom... Ampun, deh! Dom tidak mungkin menyukai cowok culun ini.
Aku tertawa keras, dan menepuk pundaknya, mendekatkan wajahku ke wajahnya dan berkata tepat di mukanya,
“Dia tidak selevel denganmu, Terry,” kataku. “Kalau kau ingin dia menyukaimu” aku memperhatikan mantelnya yang kotor. “Mandi, dong! Mandidan ingat cuci rambut!”
Ketika aku baru saja mengundurkan diri darinya, sebuah tangan mencengkram leher mantelnya dan sebuah tinju menghantam wajahnya.
Oh...oh, Merlin!

Sincerely,
Victoire Weasley
Cewek biasa yang tampaknya baru saja membuat masalah.

Kisah Next Generation 1 - Chapter 7


Disclamer: J. K. Rowling

KISAH NEXT GENERATION 1: CIUMAN YANG SALAH

Chapter 7




Tanggal: 13 November 2012
Lokasi: Ruang Kepala Sekolah
Waktu: Setelah makan malam
Dear Diary,
Kau pasti tidak bisa membayangkan apa yang terjadi sekarang. Keinginan McGonagall untuk menyatukan Malfoy dan Weasley hanyalah tinggal mimpi. Saat ini Daniel dan akusebagai Ketua Murid McGonagall, Draco Malfoy dan Uncle Ron sedang berada di ruang kepala sekolah.
Draco Malfoy duduk dengan tegak dan memberikan pandangan dingin pada Uncle Ron yang memandangnya dengan sangar. McGonagall duduk di belakang mejanya sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Daniel dan Aku berdiri di sudut dan menunggu untuk mendengar apa yang dikatakan orang dewasa.
Sebelum aku melanjutkan cerita tentang apa yang terjadi, aku akan bercerita sekilas tentang hubunganku dengan Daniel.
Daniel dan aku baik-baik saja. Kami bukan teman dan juga bukan musuh, kami menjalani hari-hari kami sebagai Ketua Murid dengan baik dan menghindari pertengkaran. Untungnya, aku bertugas mengawasi lantai tujuh sampai lantai lima bersama para Prefek Gryffindor dan Prefek Ravenclaw, jadi, aku bisa sekalian mengawasi adik-adik dan sepupu-sepupuku. Tentu saja, mereka masih melanggar peraturan, tapi masih dalam batas yang wajar, dan aku tidak akan melaporkan mereka, atau memberi mereka detensi.
Nah, kita kembali pada kejadian yang terjadi di ruang kepala sekolah, tentang mengapa Mr Malfoy dan Uncle Ron bisa beradi di sini, di Hogwarts.
Jadi, Rose dan Scorpius Malfoy yang telah saling benci dari awal terus saling benci. Mereka bertengkar di mana-mana: di kelas Ramuan, di Rumah Kaca satu, di Aula Besar saat makan malam, pokoknya di mana-mana, asalkan mereka saling pandang. Alasan pertengkarannya juga macam-macam. Rose: tidak suka melihat tampang pucat Malfoy yang seperti vampir, dipanggil Weasel Queen, dikata-katai dan macam-macam lagi. Scorpius Malfoy: Jengkel setiap kali melihat ada rambut merah yang mengembang di depannya, dipanggil musang putih, dimaki-maki dan lainnya yang sama dengan itu.
Karena pertengkaran inilah mereka selalu didetensi. Sialnya, mereka didetensi bersama jadi pertengkaran terus berlanjut. Dan kemarin mereka kembali bertengkar, mempertengkarkan siapa yang paling hebat dalam pelajaran Pertahan Terhadap Ilmu Hitam. Profesor Macmilan, yang bosan, mendetensi mereka, menyuruh mereka membersihkan piala, tropi, piagam atau apapun di ruang piala.
Pertengkaran itu berlanjut di ruang piala. Kali ini saling berduel pakai tongkat sihir (sebenarnya aku kagum, anak kelas satu sudah bisa berduel), mereka menghancurkan piala-piala, piagam-piagam dan tropi-tropi berharga milik Hogwarts. Dan Rose berhasil memantrai Malfoy membuatnya terluka dan dibawa ke rumah sakit. McGonagall yang sangat marah, memanggil Draco Malfoy dan Uncle Ron. Dan di sinilah kami sekarang menunggu keputusan kepala sekolah.
Kalau dipikir-pikir, kejadian ini mengingatkanku pada apa yang terjadi saat Fred, James dan Louis mengusir burung-burung hantu dari kandang burung hantu.
“Oke, Ron, Draco, menurut kalian apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi masalah Rose dan Scorpius?”
Tidak ada yang menjawab.
McGonagall mengambil dua perkamen dari tumpukan dan meleparkan satu pada Mr Malfoy dan yang lain Uncle Ron.
“Itu adalah laporan kelakuan buruk mereka berdua,” kata McGonagall. “Semester pertama belum berakhir, tapi laporan kelakuan buruk mereka lebih panjang dari laporan seluruh anak kelas satu dijumlahkan bersama-sama.”
Mr Malfoy dan Uncle Ron tidak berkata apa-apa.
“Bukan masalah bagiku jika pertengkaran mereka wajar-wajar saja seperti layaknya anak-anak berumur sebelas tahun, tapi aku tidak bisa mentolerirnya lagi kalau mereka telah merusak barang-barang milik sekolah dan membuat seseorang sampai dibawa ke rumah sakit.”
“Benar, yang dalam hal ini adalah anakku. Scorpius terbaring di rumah sakit sekarang gara-gara anak perempuan itu dan
“Rose tidak akan memulai pertengkaran kalau tidak diprovokasi oleh anakmu.”
Hebat, Uncle Ron, jangan mau kalah!
“Tapi, anak perempuanmu
“Diam!” gertak McGonagall, membuat kedua orang dewasa itu langsung diam.
“Aku akan langsung menyampaikan keputusan yang telah kuambil,” kata McGonagall, mengambil dua perkamen lain dan menyerahkannya masing-masing pada Mr Malfoy dan Uncle Ron.
“Surat Pernyataan?” seru Uncle Ron, saat membaca judul perkamen.
“Surat Pernyataan untuk anak yang namanya disebut di bawah untuk tidak merusak barang-barang sekolah, atau dikeluarkan,” kata McGonagall, menjelaskan. “Mereka boleh bertengkar dan bertengkar, tapi mereka tidak boleh merusak barang-barang sekolah.”
Dia memandang Daniel dan aku.
“Panggilkan Scorpius dan Rose!”
Aku segera berjalan keluar, perlahan, tapi pasti agar tidak terjatuh dari tangga.

Tanggal: 13 November 2012
Lokasi: Ruang rekreasi Gryffindor
Waktu: Sama
Anak-anak sedang duduk menunggu di dekat perapian ruang rekreasi saat aku masuk. Aku menghampiri mereka, dan mereka langsung menyerbuku dengan pertanyaan. Semua ingin tahu apa yang terjadi.
Aku bercerita pada mereka tentang apa yang terjadi.
“Mereka ingin aku menandatangi surat pernyataan? Surat Pernyataan?” Rose tampak takut.
“Tenang saja, cuma surat pernyataan,” kata James mengedip pada Fred dan Louis.
“Dengar semuanya,” kataku segera, melihat anak-anak saling melemparkan cengiran. “Aku tidak ingin ada lagi dalam keluarga kita yang harus menandatangani surat pernyataan.”
Aku memandang mereka semua.
“James, berhentilah mengganggu anak-anak lain! Fred, jangan menjadikan murid-murid Hogwarts kelinci percobaan untuk barang-barang lelucon! Louis, kau jugakudengar kau sering bolos pelajaran Herbologi, kau menyembunyikan sesuatu?”
Aku memandang Louis dengan tajam, dia membuang muka.
“Aku membayar anak-anak itu,” kata Fred.
“Aku tidak peduli, pokoknya aku ingin kau berhenti melakukannya. Kalau kau masih melakukannya juga, aku akan menyurati Aunt Angelina.”
“Oke...” kata Fred.
“Al, berhentilah mencari masalah dengan Slytherin. Kemarin kau memantrai Zabini, bukan?”
“Bukan aku yang melakukannya!” kata Al cepat.
Aku mengangkat alis.
“Oke, memang aku yang melakukannya, tapi James menantangku dan
“Dan hentikan permainan Truth dan Dare itu!” bentakku keras, membuat anak-anak lain di dekat kami terkejut. Aku menghela nafas dan melanjutkan, “Dom, Lucy, berhentilah mengunjungi Hog’s Head di malam hari. Dan Roxy, berhentilah mencuri sapu di ruang ganti Gryffindor saat para pemain tidak ada.”
“Apa? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Roxy kaget.
“Aku adalah Ketua Murid dan penjaga anak-anak,” kataku.
“Bisakah kau berhenti memanggil kami anak-anak? Aku empat belas tahun,” kata Dom sebal.
Kau belum cukup umur untuk ke bar,” kataku. “Jadi, jalan rahasia mana yang kalian gunakan?”
“Tidak ada,” jawab Lucy cepat, melirik James.
“Peta Perampok,” kataku teringat peta yang pernah diceritakan Uncle Harry. “Berhentilah menggunakan Peta Itu, Dom, Lucy, atau aku akan menyitanya!”
Anak-anak saling pandang.
“Oke, aku sudah memperingatkan kalian semua. Ingat jaga kelakuan kalian!” kataku, hendak bangkit.
“Bagaimana dengan Molly?” tanya Lucy. “Kau tidak pernah melarangnya menyusup ke menara Astronomi di malam hari, kan?”
“Apa?” tanyaku, memandang Lucy.
“Yeah, kau hanya memperhatikan kami dan mengabaikan Molly,” kata Dom.
“Dia berbeda,” kataku.
“Berbeda apanya?” tanya Lucy. “Dia juga belum dewasa, dia lima belas tahun.”
“Apa yang dilakukannya di menara Astronomy?” tanyaku, mengabaikan masalah usia.
“Mana aku tahu. Kau kan penjaga anak-anak, harusnya kau tahu, kan?” kata Lucy.
“Baik, aku akan berusaha mencari tahu. Nah sekarang kita kembali pada hal yang lebih penting... Rose, ikut aku!”
Aku membawa Rose keluar ruang rekreasi Gryffindor, diikuti oleh pandangan tidak puas anak-anak.
Begitulah yang terjadi, Diary. Aku masih belum tahu apa yang dilakukan Molly, tapi aku patut bersyukur karena Rose dan Malfoy tidak akan melakukan perang terbuka yang mengakibatkan rusaknya barang-barang sekolah lagi. Aku bisa tenang!

Sincerely,
Victoire Weasley
Ketua Murid merasa tenang untuk sementara.

Kisah Next Generation 1 - Chapter 6


Disclamer: J. K. Rowling

KISAH NEXT GENERATION 1: CIUMAN YANG SALAH

Chapter 6



Tanggal: Senin, 1 September 2017
Lokasi: Ruang Kepala Sekolah dan Pintu Masuk ke Ruang Kepala Sekolah
Waktu: 9 – 10 pm
“Jelaskan padaku!” kata McGonagall, hidungnya kembang kempis dan matanya menyipit. “Kau baru beberapa jam yang lalu mendapatkan lencanamu dan kau sudah melanggar peraturan pertama, Ketua Murid harus tiba tepat waktu di tempat. Kau bahkan tidak sempat mengikuti pesta, apakah ini sesuatu yang patut dicontoh dari seorang Ketua Murid?”
“Maafkan aku,” aku memandang sepatuku yang penuh lumpur.
Hening
Suara tetesan air dari jubahku dan suara nafas McGonagall seperti telah dikeraskan menjadi ratusan desibell.
McGonagall kemudian mengulang beberapa peraturan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Ketua Murid dan aku duduk di sana basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki, menggigil kedinginan. Ya, teruslah mengoceh, sementara aku akan terduduk mati kena hipotermia.
“Daniel telah bercerita padaku tentang apa yang terjadi di kereta, dan Hagrid juga sudah memberitahuku bahwa Rose nyaris saja menenggelamkan Scorpius di danau,” kata Mcgonagall, setelah menghabiskan 20 menit menguliahiku tentang rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam menjadi seorang Ketua Murid.
Aku masih menunduk dan menggigil. Apakah aku tidak diijinkan untuk mengeringkan diriku dulu sebelum kuliah dilanjutkan?
“Walaupun Rose sepupumu, kau harus bertindak tegas padanya... Aku tidak ingin kebencian lama Weasley-Malfoy terus berlanjut di next generation ini. Cobalah bicara dengan Rose!”
“Baik...” gigilku.
Kemudian McGonagall menceritakan cerita yang sudah sering kudengar saat makan malam bersama, tentang bagaimana Grandpa dan Lucius Malfoy bertengkar di toko buku Flourish and Blotts juga bagaimana pendapat Lucius Malfoy tentang keluarga Weasley.
“Jadi, aku ingin Rose dan Scorpius, kalau bisa Al juga, berteman akrab dan membentuk hubungan pertemanan yang indah, jadi para orangtua bisa ikut berteman,” McGonagall mengakhiri pidatonya dengan memberikan pandangan super-tajam padaku.
Hahaha, Rose dan Malfoy berteman? Kalau itu terjadi, keajaiban dunia kedelapan akan tercipta. Eit, tapi, nanti dulu, tadi McGonagall bilang apa? Dia menyuruhku untuk menjadikan Rose dan Malfoy teman?
“Nah, itu tugasmu, Victoire!”
“Anda menyuruh saya untuk menjadikan Rose dan ScoMalfoy teman? Anda tidak sungguh-sungguh, kan?” Mata, pikiran, bahkan seluruh tubuhku terfokus pada McGonagall.
“Tentu saja, aku sungguh-sungguh, Victoire... Kau bisa mencari ide untuk membuat mereka berteman sambil melaksanakan tugas Ketua Murid-mu,” kata McGonagall.
Bagus, setidaknya aku belum dipecat.
“Nah, sekarang pergilah!” kata McGonagall, melambaikan tangannya menyuruhku pergi.
Dengan gigi gemeletuk, aku berjalan keluar, menuruni tangga sambil mengeringkan pakaianku, lalu tergelincir di tangga yang memutar karena lumpur licin di sepatuku. Aku terguling-guling dan berhenti dengan bunyi gedebuk keras di luar patung Gargoyle. Patung jelek itu mengeluarkan desis tawa berkepanjangan.
“DIAM!” raungku, berbaring di lantai, memejamkan mata dan berusaha mengusir rasa pusing di kepala.
Sialan! Sialan! Belum cukupkah penderitaanku ini? Apakah aku masih harus menderita gegar otak dan patah tulang?
“Victoire!”
Molly tiba-tiba muncul entah dari mana dan membantuku berdiri.
“Apa yang terjadi?”
“Tergelincir...” jawabku, mengelus bokongku yang sakit.
“Apa yang terjadi denganmu, Victoire? Kaukau tidak seperti Victoire yang biasanya!” tanya Molly, memandangku dengan aneh.
Benar, aku bukan lagi Victoire, Cucu Pertama Keluarga Weasley yang Super-sempurna, tapi sudah menjadi Victoire, Cewek yang terlihat sangat menyedihkan. Terima kasih, Teddy!
“Apakah kau masih memikirkan apa yang dikatakan Teddy?”
“APA?”
Mataku terbuka lebar, nafasku berhenti sesaat, jantungku berdebarkan kencang. Mengapa Molly bisa tahu, sedangkan dia tidak ada di sana waktu itu?
“Teddy bercerita pada kami bahwa dia mengatakan kau adalah cewek menyedihkan.”
“Apa?”
“Aku tahu kau pasti terkejut. Dia menceritakan hal itu saat liburan musim panas kemarin. Kami tidak bicara dengannya setelah itu. Kau tahu, Lucy dan Dom mencaci makinya; Roxanne menaruh kumbang dimakan siangnya; dan Fred, James dan Louis menaruh bubuk gatal di kursinya; dan masih banyak lagiKami menyuruhnya minta maaf padamu.”
“Oh ya?”
Lihatkan, Diary! Biarpun anak-anak menganggapku sebagai perusak suasana, mereka sangat menyayangiku. Mereka memilih aku dari pada orang favorit mereka, Teddy Lupin.
“Ya…. Kau seharusnya melihat wajah Teddy setelah dilempari telur oleh Rose dan Lily.”
“Apa?”
Dilempari telur?
Aku tertawa.
Oh, terima kasih, akhirnya aku bisa tertawa.
Molly juga tertawa, kami berdua tertawa dan terus tertawa dan tidak menghiraukan Baron Berdarah yang lewat di depan kami mendelik dan mengeram pada kami. Rasanya sudah lama sekali tidak tertawa, apa lagi tertawa bersama si pendiam Molly.
“Omong-omong, benarkah sekarang kau berkencan dengan Teddy?” tanya Molly, setelah cegukan sesaat.
“APA?”
Nah, nah, sepertinya aku telah mengucapkan kata itu berulang kali dan tampaknya Molly juga menyadarinya, dia berkata,
“Jangan terus mengatakan apa! Jadi benar kau berkencan dengan Teddy?”
“Tidak akuPasti James?” sergapku cepat.
Dasar biang gosip!
“Ya, James telah menyebarkannya di seluruh kastil. Kau tahukan bagaimana Hogwarts?” kata Molly. “Gosip seperti ini akan menyebar lebih cepat daripada air yang mengalir.”
“No way!”
“Yes way,” kata Molly. “Nah, jadi benar kau dan Teddy?”
“Tidak,” kataku cepat-cepat.
“Sudah kuduga. James suka sekali menarik kesimpulan yang berlawanan dengan yang sebenarnya. Lalu kata Al, kau dan Daniel putus, benarkah?”
Potters, tidak bisakah mereka bersabar satu hari!
“Ya,” aku berkata, memandang tembok kosong di depanku. “Kami bertengkar tentang Rose dan juga James.”
“Baguslah, kau bisa bersama Teddy sekarang,” kata Molly, tersenyum.
Lama-lama kesal juga mendengar kalimat yang sama terus-menerus.
“Mengapa kalian semua ingin aku bersama Teddy?”
“Karena Teddy sangat serasi untukmu, dan kurasa dia sangat menyayangimu.”
“Ya, dia juga menyayangimu, Dom, Lucy, Fred, Roxy, James dan semuanya,” kataku cepat.
“Tidak, bukan itu
“Lalu apa yang kaulakukan di sini?” tanyaku, mengubah topik. Aku tidak ingin bicara tentang diriku saja, lagi pula baru hari ini Molly bicara lebih dari lima kalimat denganku. “Ini bukan jalan menuju menara Ravenclaw, kan?”
“Er Wajah Molly berubah merah padam sampai ke telinga dan lehernya. Khas Weasley kalau sedang marah, malu, stress atau menyembunyikan sesuatu. Aku menduga yang terakhir adalah jawabannya.
“Nah, Molly? Apa yang kau sembunyikan?” tanyaku tersenyum, mengedipkan mata.
“Tidak ada,” kata Molly, memerah. “Kalau kau ingin tahu aku mau ke kantor kepala asramaku... Nah, aku pergi dulu...”
Dia berjalan cepat meninggalkanku.
Aku tidak percaya, karena kantor kepala asrama Ravenclaw terletak di sebelah kanan koridor sedangkan Molly berjalan ke sebelah kiri. Molly sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku rasa aku tidak akan tahu sampai Molly sendiri yang bercerita. Molly sangat pandai berahasia.
Nah, Diary, hari yang benar-benar melelahkan, bukan? Sekarang tinggal bagaimana menemukan ruang rekreasi Ketua Murid di antara ribuan ruangan di Hogwarts

Sincerely,
Victoria Weasley
Yang masih bingung mencari ruang rekreasi Ketua Murid.

Kisah Next Generation 1 - Chapter 5

Disclamer: J. K. Rowling


KISAH NEXT GENERATION 1: CIUMAN YANG SALAH

Chapter 5


Tanggal: Senin, 1 September 2017
Lokasi: Stasiun Hogsmead
Waktu: 6.10 – 6.25 pm
Dear Diary,
Kehebohan yang terjadi tidak sampai di situ, sekarang kau biasa menyebutku cewek sinting. Saat itu aku sedang berdiri di stasiun dengan tubuh basah dari ujung kaki sampai ujung rambut, mengigil kedinginan dan memandang Rose dan Malfoy yang sekarang sedang memperebutkan sesuatu yang tampaknya adalah kartu platinum penyihir terkenal dalam Coklat Kodok.
Asal tahu saja, aku telah melompat keluar dari kereta tanpa kuda, tergelincir di dekat kereta tetangga (untung saja aku tidak memecahkan kepalaku sendir), berlari seperti cewek gila dalam hujan yang jatuhnya tak tanggung-tanggung untuk mendekati Rose dan Malfoy, yang basah kuyup dan sudah siap bergumul di lumpur.
“Kartu itu milikku, Malfoy, terjatuh dari saku jubahku,” kata Rose.
“Mana buktinya?” tanya Malfoy, mengangkat alis.
“Aku memang tidak bisa membuktikannya, tapi itu benar-benar kartu milikku.”
“Siapa bilang? Akulah yang menemukan kartu ini jadi kartu ini milikku!”
“Kembalikan, Brengsek!”
“Tidak...”
Rose sudah akan menyerbu Malfoy dan aku segera menyambar lengannya.
“Hentikan!” kataku dengan suara Ketua Murid yang siap memberikan detensi.
Aku memandang Malfoy, yang wajahnya tampak senang dan puas.
“Aku akan menyita kartu ini,” kataku, merebut kartu dari tangan Malfoy.
Wajah Malfoy tampak murka, Rose tersenyum senang.
“Dan aku tidak akan memberikannya padamu,” kataku pada Rose, yang wajahnya langsung berubah. “Pergilah, sekarang! Kalian harus naik perahu, kan?”
Rose dan Malfoy tidak bergerak.
“Pergilah! Atau kalian ingin aku memberikan kalian detensi,” kataku mengancam.
Aduh, mengapa anak-anak ini sangat keras kepala? Tidakkah mereka tahu bahwa kepalaku sakit karena lapar, belum lagi udara dingin dan hujan yang menusuk kulit?
“Oke,” kata Rose.
Sangat bijaksana, Rose!
“Pergilah!” kataku mengusir.
Dia dan Malfoy meninggalkanku dan menghilang di balik tirai hujan. Aku memandang kartu platinum bergambar Severus Snape di tanganku.
Aku tersenyum.
Diary, aku tidak akan menipu diriku sendiri lagi! Jujur saja, aku juga mengoleksi kartu Coklat Kodok dan tidak ada satu pun kartu platinum dalam koleksiku. Kartu platinum adalah kartu yang sangat jarang, satu dari seribu, cuma keberuntunganlah yang membuatmu bisa mendapatkannya.
Asyik, kartu ini bisa menambah koleksiku!
Merlin, apakah aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan citraku sebagai Cucu Pertama Keluarga Weasley yang Super-sempurna? Tidak, tidak, aku tidak berbuat kesalahan. Apakah salah kalau aku menginginkan kartu platinum yang langka ini?
“Victoire!”
Aku terkejut dan mengangkat muka.
Rose dan Malfoy sedang berdiri di depanku, basah kuyup dan menggigil.
“Apa? Mengapa kalian tidak segera pergi bersama Hagrid?”
“Mereka sudah pergi dan kami tidak tahu jalan menuju dermaga,” kata Rose.
“Ya, ampun, baiklah, aku akan mengantar kalian,” kataku, mengantongi kartu platinum, dan menggandeng tangan Rose dan Malfoy.
“Aku tidak suka bergandengan tangan,” kata Malfoy, menyentakkan tangannya.
Aku tidak melepaskannya, tapi menyeretnya dan Rose, berlari kecil menembus lumpur dan hujan bukan September yang tercurah dari langit dengan deras.
Kami hampir sampai di dermaga saat Hagrid sudah akan menyuruh armada perahu kelas satu untuk berangkat ke Hogwarts.
Sial!
“HAGRID,” aku menjerit seperti orang yang nyawanya tinggal di ujung tombak, dan menyeret Rose dan Malfoy berlari kencang menyusuri dermaga yang terbuat dari papan.
“Victoire,” Hagrid, memandangku tercengang.
Aku ngos-ngosan, melepaskan penganganku pada Rose dan Malfoy yang juga ngos-ngosan dan mengelus dada. Ya, ampun, orang seharusnya tidak boleh berolah raga di malam hari!
“Rose, apa kabar?” kata Hagrid, yang telah melihat Rose. “Hampir saja terlambat, ayo... ayo!”
Rose dan Malfoy, yang masih ngos-ngosan dipaksa Hagrid naik ke perahunya.
Aku ingin berkata, Rose dan Malfoy tidak boleh ditempatkan dalam satu perahu karena mereka bisa membuat perahu tenggelam, tapi Hagrid telah mengarahkan armada perahu untuk maju, meninggalkanku yang masih ngos-ngosan di  dermaga.
Jadi, semua beres, Rose dan Malfoy tidak ketinggalan perahu dan aku bisa kembali ke stasiun Hogsmead, naik kereta tanpa kuda dan tiba di Hogwarts sebagai Ketua Murid baru.
Diary, ternyata asyik juga melangkah sambil bersendung di bawah hujan, menyanyikan lagu Sekuali Penuh Cinta yang Panas dan Pekat, dan melupakan peristiwa yang terjadi di kereta api. Putus cinta, adik-adik dan sepupu yang bertingkah aneh dan Teddy Lupin... Lupakan semuanya!
Kurebus cintaku dalam kuali!
Cinta yang yang panas dan pekat!
Kau tentu berpikir bahwa aku sudah menjadi penggemar Celestina Warbeck, tapi sebenarnya bukan begitu. Lagu itu tiba-tiba saja muncul dalam pikiranku, yah, dan aku menyanyikannya. Kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya menyanyikan lagu kesukaan Grandma.
Namun, kerianganku berakhir setelah sampai di stasiun Hogmead. Stasiun itu sekarang sepi... hening... tenang...atau apa pun kata yang bersinonim dengan itu, karena keadaannya memang begitu. Kereta-kereta tanpa kuda yang jumlahnya harusnya ada lima puluh tidak satu pun kelihatan. Apakah aku ditinggal? Jelas sekali, aku memang sudah ditinggal, tidak perlu mencari di balik tempat sampah.
Sial!
Jadi, sekarang aku harus jalan kaki menuju kastil yang jaraknya entah berapa kilometer. Aku, Cucu Pertama Keluarga Weasley yang Super-sempurna, telah menciptakan record: Ketua Murid yang telah menampar Ketua Murid lainnya, Ketua Murid yang terlambat pada hari pertama, dan mungkin tak lama lagi, Ketua Murid yang dipecat setelah beberapa jam menjabat. Dan, jalan di bawah hujan pada bulan September bukanlah ide yang bagus untuk bersenang-senang.

Sincerely,
Victoire Weasley
Ketua Murid yang mungkin sebentar lagi dipecat.