Kisah Next Generation 1 - Chapter 8
Disclamer: J. K. Rowling
KISAH NEXT GENERATION 1: CIUMAN YANG SALAH
Chapter 8
Tanggal: Sabtu 23 Desember 2012
Lokasi: Hogsmeade
Waktu: 11 am – waktu yang tidak ditentukan
Dear Diary,
Ini pertama kalinya, aku ke Hogsmeade lagi di semester ini. Aku sengaja menghindari
Hogsmeade karena aku tahu Teddy pasti akan datang ke sana. Anak-anak selalu
mengirimkan berita tentang waktu kunjungan ke Hogsmeade padanya, jadi aku
memutuskan untuk tinggal di Hogwarts dan belajar. Bukannya aku tidak ingin
bertemu Teddy, tapi aku belum ingin membahas apa yang kurasakan. Lagipula, aku
seharunya masih marah, kan? Dia menyamar jadi Daniel hanya untuk menciumku.
Teddy sudah menulis padaku, mengatakan kata-kata maaf dan keinginannya
untuk bertemu denganku, namun aku masih belum ingin bertemu dengannya. Aku
masih harus menyelesaikan banyak hal: aku masih belum tahu apa yang dilakukan
Molly; Dom dan Lucy sudah pandai sekali meramu ramuan untuk hangover (mereka masih sering
menyelundup ke Hog’s Head di malam hari); Fred nampaknya semakin banyak
Galleon; Roxy masih melakukan kegiatan terbang di malam hari; James, tampak
sedikit stress entah mengapa; Louis masih tidak ikut beberapa kelas Herbologi
(Longbottom telah mengirim surat pada Mom dan dia menyuruhku mengawasinya);
Rose masih bertengkar dengan Scorpius, namun mereka menahan diri untuk tidak
meluncurkan mantra yang bisa mengacau-balaukan Aula Besar; Al masih terus
memantrai anak-anak Slytherin di koridor. Kadang aku berpikir, mengapa
adik-adik dan sepupu-sepupuku, kecuali Molly, tidak ditempatkan di Slytherin
saja. Melihat kelakukan mereka kau pasti berpikir mereka adalah Slytherin.
Kau pasti bertanya mengapa aku ke Hogsmeade padahal aku sedang menghindari
Teddy. Itu karena Teddy tidak mungkin datang ke Hogsmeade hari ini. Aku telah secara
khusus bertanya pada Uncle Harry tentang jadwal Teddy dan dia mengatakan bahwa
para calon Auror sedang mengadakan pelatihan di Banffshire.
Syukurlah, rasanya senang sekali meninggalkan kastil karena aku bisa
menjauh dari semuanya, menjauh dari anak-anak (Fred, James, Louis, Roxy, Rose
dan Al belum diijinkan ke Hogsmeade), terutama dari Daniel dan pacar barunya.
Mereka sering berciuman di koridor-koridor sepi, untung saja bukan di ruang
rekreasi Ketua Murid. Aku bukannya
cemburu, atau apa, aku hanya merasa risih, maksudku dia juga pernah menciumku,
kan?
Mencari-cari Molly di antara anak-anak yang berkeliaran di Hogsmead,
bukanlah kegiatan yang mudah, karena semua anak tampaknya sama saja di antara
sweater wol warna-warni, jaket kulit dan salju yang putih. Dom dan Lucy juga
tidak kelihatan, kemungkinan besar mereka di Hog’s Head. Pelayan bar di sana
tidak peduli, pelajar atau bukan, kalau kau punya Sickle dan Galleon kau bisa
membeli apa saja. Apakah aku harus mencari Dom dan Lucy di Hog’s Head? Tidak, aku
tidak akan melakukannya, bisa-bisa terjadi pertengkaran. Dom dan Lucy
melawanku, tentu saja aku yang kalah.
Masuk ke toko permen Honeyducks dan bersesakkan dengan siswa kelas tiga
yang mencari-cari permen di antara konter-konter penuh permen segala rasa,
merupakan kegiatan yang menyenangkan. Di sini hangat dan wangi permen tercium
di udara membuatku bersemangat. Setelah membelikan permen untuk Fred, Roxy,
James, Louis, Rose dan Al, aku segera keluar dari kehangatan toko permen itu.
Angin yang agak kencang dan dingin menyambarku saat aku berjalan menyusuri
jalan menuju Three Broomstick. Aku merapat syal merah Griffindor di leherku dan
segera berjalan cepat setengah berlari menuju Three Broomstick, tapi sebuah
tubuh yang keras seperti tembok batu menghalangiku,
BUK!
Terjadi tabrakan keras dan aku terjatuh di salju dengan bokong terbenam
dalam salju.
Sial!
Siapa brengsek yang menghalangi jalan orang?
Masih terduduk di salju, aku mengangkat muka dan melihat seorang cowok berambut
pirang, berkacamata, bermantel
hitam dan bernama Terrius sedang tersenyum, lebih tepatnya tawa.
“Oh, hentikan!” kataku sebal.
“Hai, Victoire, kau baik-baik saja?” katanya, mengulurkan tangan padaku,
membantuku berdiri.
“Aku baik-baik saja,” jawabku berdiri, kemudian mengelus-elus bokongku yang
sakit.
“Kelihatan kau kesakitan,” katanya, masih tersenyum.
“Itu karena aku melihat wajahmu. Apa yang kaulakukan di sini?” tanyaku.
“Memangnya aku tidak boleh ada di Inggris?” dia balik bertanya.
“Oh, sudahlah,” kataku sebal.
Diary, aku akan memperkenalkan pendatang baru ini. Dia adalah Terrius Krum,
aku pernah menyebutnya di halaman-halaman sebelumnya, tapi aku tahu kau mungkin
tidak memperhatikannya. Oke, aku akan mengulangnya lagi. Jadi, Terrius Krum
adalah—kau benar sekali—anak Viktor Krum, teman Mom. Mereka sering
mengunjungi Shell Cottage kalau sedang ada di Inggris. Dia dua tahun lebih muda
dariku dan sudah lulus Drumstrang beberapa bulan yang lalu. Aku kadang
bertanya-tanya mengapa dia bisa lulus secepat ini, apakah anak-anak Durmstrang
diijinkan lompat ke kelas yang lebih tinggi kalau kau cukup pintar?
Dan Terry, bukan sekedar cukup pintar, tapi dia benar-benar pintar. Dia
bisa menghafal angka-angka, nama-nama dan peristiwa dengan cepat dan tepat
hanya dengan satu kali melihat atau satu kali mendengarkan. Dia juga dapat
mengerjakan perhitungan Arithmancy yang super-sulit hanya dengan hitungan
detik, hebat bukan? Dan yang lebih hebat lagi, namanya telah terukir dalam Buku
Record Dunia Sihir sebagai anggota termuda Liga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sihir Sedunia. Entah apa yang mereka lakukan, tapi mereka telah berhasil
menemukan beberapa penemuan penting untuk dunia sihir, seperti ramuan-ramuan
baru, mantra-mantra yang sangat berguna dan berbagai hal yang berhubungan
dengan pengetahuan.
Tetapi, yeah, anaknya agak culun, dalam penampilan dan dalam perilaku. Penampilannya bisa membuat orang
berpikir bahwa dia adalah pengemis di jalan-jalan Diagon Alley pada jaman
Voldemort, yang telah ber-reinkarnasi. Lihat saja sekarang, rambut kotor, wajah
coklat, tahi mata di sudut mata, bibir pecah-pecah, kacamata super-tebal yang
juga kotor, jubah hitam kusam, sepatu kumal. Orang akan berpikir bahwa dia
tidak mendapat apa-apa dalam menjual penemuan-penemuannya—apa sih yang dia lakukan
dengan Galleon-Galleon-nya? Tidak ada salahnya membeli sabun dan parfum, kan?
Dia juga tidak punya teman, apa lagi pacar, temannya mungkin bisa dihitung
dengan jari dan aku adalah salah satunya. Sebenarnya, aku sedikit heran juga,
bagaimana aku bisa berteman dengan anak culun seperti ini? Mungkin karena aku
adalah penjaga anak-anak dan tidak ingin ada anak-anak yang menyendiri di sudut
ketika anak-anak lain sedang bermain. Nah, aku memang seperti itu, waktu dia
masih berumur sepuluh tahun orangtuannya pernah membawanya berkunjung ke Shell
Cottage dan dia tidak bermain bersama kami, dia hanya duduk di dekat ayahnya
dan memandang rumah kami dengan kagum. Aku yang waktu itu sedang
semangat-semangatnya membuat orang lain ceria, menyeretnya dari sisi ayahnya
dan menyerahkannya pada Dom, yang langsung melemparkannya ke laut. Untung saja
dia tidak mati tenggelam. Kejadian waktu itu heboh sekali, Mom dan Dad segera
menghukum Dom dan aku, tapi setelah itu dia jadi temanku. Dia dan Dom juga
berteman, tapi entah mengapa terasa janggal dan kaku. Dia lebih santai kalau
bersamaku, yeah, semua orang memang lebih santai kalau bersamaku.
Diam-diam aku berpikir untuk menjodohkannya dengan Molly, kalau dia bersama
Molly, dia kan bisa masuk menjadi anggota keluarga kami. Tetapi aku tidak yakin
Molly menyukai anak culun ini. Omong-omong, Molly ke mana, ya?
“Mana Dom?” tanya Terry, saat kami berjalan menyusuri jalanan bersalju
menuju Three Broomstick.
“Jangan tanya aku!”
jawabku. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kami sedang meneliti sesuatu di Inggris,” jawabnya singkat.
“Apa?”
“Tidak mungkin aku bisa membuka rahasia perusahaan padamu, Victoire.”
“Oke, cuma basa-basi,” kataku pedas.
Kami masuk ke bar hangat Three Broomstick. Terry memesan Butterbeer dan aku
mencari meja dalam bar yang penuh itu.
“Di sini,” teriakku, memberi isyarat pada Terry, yang membawa dua kaleng
hangat Butterbeer untuk mengikutiku ke meja dekat jendela.
Kami duduk dan meneguk Butterbeer.
“Siapa pacarmu sekarang?” tanyaku.
“Tidak ada. Kau?”
“Baru putus, beberapa bulan yang lalu,” jawabku.
“Dom?”
“Jangan tanya aku!”
jawabku, aku memperhatikannya sesaat. “Kau naksir dia?”
“Siapa?” dia bertanya bingung.
“Dom… Kau suka Dom?”
“Tidak...” Wajahnya
memerah.
Aku menyeringai. Dia suka Dom... Ampun, deh! Dom tidak mungkin
menyukai cowok culun ini.
Aku tertawa keras, dan menepuk pundaknya, mendekatkan wajahku ke wajahnya
dan berkata tepat di mukanya,
“Dia tidak selevel denganmu, Terry,” kataku. “Kalau kau ingin dia
menyukaimu—” aku memperhatikan mantelnya yang kotor. “Mandi, dong! Mandi—dan ingat cuci rambut!”
Ketika aku baru saja mengundurkan diri darinya, sebuah tangan mencengkram
leher mantelnya dan sebuah tinju menghantam wajahnya.
Oh...oh, Merlin!
Sincerely,
Victoire Weasley
Cewek biasa yang tampaknya
baru saja membuat masalah.


0 komentar: