Kisah Next Generation 2 - Diam-Diam Mencintaimu 1

7:41:00 PM Unknown 1 Comments


Disclamer: J. K. Rowling

KISAH NEXT GENERATION 2: DIAM-DIAM MENCINTAIMU

Chapter 1


PERHATIAN!
Catatan Harian ini adalah milik:
Nama: Molly Aphorpine Weasley
Tempat Tanggal Lahir: London, 21 Februari 2002
Jenis Kelamin: Perempuan.
Status Darah: Darah-Murni
Warna rambut: Merah
Warna mata: Coklat gelap
Warna kulit: Terang
Tinggi: 165 cm
Berat: 50 kg
Alamat: Hollowtree Resident no. 24, London.
Tongkat sihir: Cherrywood, 24 cm, nadi jantung naga.
Anggota Keluarga: Percy dan Audrey (Orangtua), Lucy (adik)
Catatan: Punya banyak paman, bibi dan sepupu.

Tanggal: Kamis, 4 Desember 2018
Tempat: Perpustakaan Hogwarts
Waktu: Setelah makam malam
Dear Diary,
Aku mencintai Julian Davies!
Ya, kau mendengarku dengan jelas, aku mencintainya, bukan sekedar menyukainya. Aku mencintainya!
Aku sudah mencintainya sejak lama, sejak dia membantuku menemukan buku Cara-Cara Pandai dalam Transfigurasi di perpustakaan. Waktu itu aku kelas tiga, dan aku sangat memerlukan buku itu untuk menyelesaikan PR Transfigurasi-ku. Aku duduk di depan rak dan menangis, tapi dia datang, bertanya apakah dia bisa membantuku dan dia berhasil menemukan buku itu untukku. Aku langsung terpesona, Diary! Aku langsung jatuh cinta. Oke, mungkin itu belum disebut cinta karena waktu itu aku baru tiga belas tahun. Tetapi, aku mulai pasang mata dan menguntit ke mana pun dia pergi, lalu aku tahu (dengan sangat malu) bahwa namanya, Julian Davies, seasrama denganku dan bahkan satu angkatan denganku.
Ya, ampun ke mana saja aku selama ini!? Memalukan!
Oke, akan kujelaskan mengenai diriku sebelum kau menganggapku cewek sombong atau cewek buta.
Aku adalah cewek yang tidak pandai bergaul (ibuku juga seperti itu dan entah bagaimana dia bisa menikah dengan Dad), dan sangat pemalu. Aku tidak bisa berbicara dengan orang yang tidak kukenal dan tidak bisa mengatakan apa yang kupikirkan. Aku juga jarang sekali bicara, dan tidak pernah memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Keinginanku yang utama adalah belajar, mengerjakan PR dan membaca apapun yang kuanggap penting. Karena aku tidak memperhatikan sekelilingku itulah, aku tidak melihatnya, aku bahkan tidak tahu siapa-siapa saja teman sekelasku. Aku hanya ingat pada empat cewek mengerikan yang menjadi teman sekamarku di menara Ravenclaw. Aku tidak bisa menceritakan padamu tentang mereka karena sampai sekarang aku tidak tahu pasti wajah mana untuk nama yang mana.
Karena aku jarang berhubungan sosial dan melakukan kegiatan lain, waktuku hanya kuhabiskan untuk belajar dan membaca. Aku adalah yang nomor satu di angkatanku, aku tidak tahu siapa nomor dua dan seterusnya, tapi aku tahu bahwa Julian masuk dalam sepuluh besar. Aku senang karena bukan hanya tubuhnya yang tinggi dan wajahnya tampan, tapi dia juga punya otak.
Nah, sekarang aku akan bercerita tentang Julian.
Julian adalah cowok paling tampan di dunia ini. Jangan tertawa, please, itu kan pendapatku! Wajahnya tampan dengan mata biru gelap dan rambut hitam, tubuhnya tinggi (lebih tinggi kira-kira lima belas senti dariku), senyum dan tawanya sungguh indah (meski bukan tersenyum padaku), pembawaannya sangat sempurna (kurasa semua orang menyetujuinya), dia sangat baik dan pengertian, suka membantu orang lain dan segala hal baik lainnya. Dia juga terkenal, dia adalah Kapten Quidditch Ravenclaw, dan banyak cewek yang berlomba-lomba untuk jadi pacarnya. Bagaimana aku bisa mengalahkan gadis-gadis cantik Hogwarts?
Aku hanya bisa mencintainya dalam diam dan dari kejauhan. Aku hanya bisa menyelimutinya saat dia tertidur di ruang rekreasi karena terlalu lama belajar, mengatur semua buku-bukunya untuk pelajaran keesokan harinya, mengerjakan PR-nya secara diam-diam, dan menguntitnya saat dia menuju ke menara Astronomy untuk berciuman dengan pacarnya, Suzanne Corner. Menyedihkan, bukan? Tetapi ini bukan kesalahan siapa-siapa, ini kesalahanku sendiri yang tidak bisa menyampaikan perasaanku.
Dan setiap kali melihat mereka berciuman, aku selalu berpikir bahwa si cewek adalah aku, tapi cewek itu bukan aku. Aku hanyalah Molly Weasley, cewek pendiam yang tidak pantas didekati oleh siapa pun. Dia mungkin tidak tahu bahwa aku ada, kalau pun tahu, dia mungkin menganggapku sebagai salah satu dari cewek culun di sekolah.
Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku tidak menyampaikan perasaanku. Itu karena aku malu dan takut ditertawakan. Dia pasti akan menertawakanku, dia mungkin menganggap aku tidak selevel dengannya. Dan itu benar sekali, aku memang tidak selevel dengan siapa pun, dan aku mungkin tidak akan pernah berkencan dengan siapa pun (aku harus bertanya pada Mom bagaimana dia bisa menikah dengan Dad).
Dia duduk di sana membaca buku bersampul coklat (aku akan mengecek judul bukunya nanti), sedangkan aku duduk di sini mengawasinya dari balik Transfigurasi untuk Tingkat Menengah yang kubaca. Dia begitu serius sehingga tidak menyadari aku sedang mengawasinya, dan aku juga harus berhati-hati agar tidak ada seorangpun yang tahu aku sedang mengawasinya. Aku tidak ingin kejadian di menara Astronomy itu terjadi lagi. Dom dan Lucy yang hendak menyusup ke Hog’s Head mendapatiku sedang menyusup ke menara Astronomy. Saat itu dia sedang di sana, aku tahu karena aku tidak menemukannya di ruang rekreasi Ravenclaw. Aku berhasil menghindar dari Dom dan Lucy, namun setelah itu semua klan Weasley/Potter mulai mengawasiku. Aku tahu Victoire-lah yang meminta mereka untuk mengawasiku. Dan ini membuatku tidak bebas bergerak.
Berbicara tentang Victoire, dia sekarang telah meninggalkan Hogwarts, dan tugas untuk menjaga anak-anak ada di pundakku. Aku tidak boleh duduk tenang dan menunggu Victoire yang membereskan masalah anak-anak lagi, karena Victoire sudah tidak ada, sedangkan aku ada. Siapa lagi yang mengurus masalah anak-anak kalau bukan aku. Sebelum kepergian Victoire, kami semua berkumpul dan Victoire meminta mereka untuk mendengarkan semua perkataanku.
Pada awal tahun ajaran, anak-anak sedikit memberontak, tapi aku berhasil membuat mereka mematuhiku karena aku menggunakan ancaman yang selalu digunakan Victoire, yaitu mengirim surat pada ibu masing-masing. Aku berhasil, setidaknya mereka tidak melanggar peraturan di depanku, tapi aku tahu (meskipun tidak punya bukti): Dom dan Lucy masih menyusup ke Hog’s Head; Fred dan James masih menyewa anak-anak sebagai kelinci percobaan barang-barang lelucon; Roxy, yang telah dibelikan sapu oleh Aunt Angelina tidak lagi menyusup ke lemari sapu ruang ganti Gryffindor, tapi masih melakukan terbang di malam hari; Louis masih membolos Herbology, entah mengapa; Rose masih bertengkar dengan Scorpius dan Al masih menghabiskan waktunya untuk mencoba mantra-mantra pada anak-anak Slytherin yang tidak tahu apa-apa.
Kurasa Victoire selalu benar tentang semua hal, juga tentang kenyataan bahwa anak-anak sebenarnya harus di tempatkan di asrama Slytherin.
Sincerely,
Molly Weasley
Si pencinta dan penjaga anak-anak

You Might Also Like

1 comment: